ANDAIKAN METODE DAKWAH SEPERTI WALI SONGO, MAKA RUSIA AKAN MENJADI NEGERI MUSLIM
ANDAIKAN METODE DAKWAH SEPERTI WALI SONGO, MAKA RUSIA AKAN MENJADI NEGERI MUSLIM
Oleh: H. Hendra Umar, S.Ag, M.H
I. Gagalnya Dakwah Islam Di Tanah Rusia
Kisah tentang Raja Rusia yang
mencari agama untuk rakyatnya, yang kemudian memilih Kristen Ortodoks, adalah
salah satu peristiwa penting dalam sejarah Rusia. Raja tersebut adalah Pangeran
Vladimir I dari Kiev, yang memerintah pada akhir abad ke-10 dan awal abad
ke-11.
Pangeran
Vladimir I (Vladimir Agung) merupakan penguasa Rus’ Kiev, sebuah kekaisaran
awal yang berkembang di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Ukraina,
Belarus, dan Rusia Barat. Pada saat itu, Rus’ Kiev berada di bawah pengaruh
berbagai kekuatan budaya dan agama, termasuk Paganisme tradisional, serta
berbagai agama dari Timur Tengah dan Eropa. Pada masa pemerintahan Vladimir,
Rus’ Kiev masih menganut Paganisme, yang merupakan sistem kepercayaan
politeistik. Namun, Vladimir mulai melihat bahwa banyak kerajaan besar di dunia
saat itu memiliki agama monoteistik yang kuat seperti Kristen di Kekaisaran
Bizantium, Islam di Kekhalifahan Abbasiyah, dan Yudaisme di Khazaria.
Legenda
pencarian agama ini terutama diceritakan dalam “The Primary Chronicle”
atau Kronik Nestor, sebuah naskah sejarah kuno yang mencatat peristiwa
Rus’ Kiev. Kronik ini telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Samuel Hazzard Cross dan Olgerd P. Sherbowitz-Wetzor dengan judul “The Russian Primary Chronicle: Laurentian Text”, diterbitkan oleh Harvard University Press.
Dikisahkan bahwa Vladimir memutuskan untuk mencari agama yang paling sesuai untuk rakyat dan kerajaan Rus’ Kiev. Pada tahun 987, dia mengutus delegasi ke berbagai negara untuk mempelajari agama mereka. Vladimir ingin tahu mana agama yang paling baik untuk mempersatukan kerajaannya dan memberinya kekuatan politik serta spiritual yang lebih besar.
(Vladimir I, Sumber: Wikipedia)
Para utusan
dikirim ke berbagai wilayah untuk mempelajari agama-agama besar di dunia.
Vladimir juga memanggil para ahli agama untuk berdialog langsung.
Utusan pertama
dikirim ke Khalifahan Abbasiyah di Bagdad untuk mempelajari Islam. Mereka
pulang membawa beberapa ulama dan dai. Awalnya, Vladimir tertarik dengan Islam.
Ia mengakui Islam sebagai agama mengagumkan. Namun satu hal yang tidak dapat
diterima oleh Vladimir adalah larangan meminum alkohol. Dalam kronik tersebut
dikatakan Vladimir menolak Islam karena “kegembiraan Rusia adalah minum”,
sehingga agama yang melarang alkohol tidak sesuai bagi mereka. Para da’i Islam
juga nampaknya tidak memberikan toleransi dalam masalah alkohol.
Vladimir lalu
berpaling ke agama Yahudi. Utusan dikirim ke Bangsa Khazar untuk mempelajari
Yudaisme. Delegasi yang mengunjungi bangsa Khazar untuk mempelajari Yudaisme
juga tidak memberikan hasil yang memuaskan. Vladimir merasa bahwa orang-orang
Yahudi berada dalam pembuangan dan tidak memiliki tanah air yang kuat, sehingga
ia meragukan kekuatan agama yang tidak mampu mempertahankan tanah air bagi
umatnya.
Vladimir lalu
mengirim utusan ke Kekaisaran Romawi Suci (Eropa Barat) untuk mempelajari
Kristen Katolik. Delegasi yang mengunjungi Kekaisaran Romawi Suci juga
melaporkan tentang agama Katolik. Namun, Vladimir merasa kurang terkesan dengan
bentuk upacara dan ritus agama Katolik, serta perbedaan politik antara Barat
dan Timur, membuatnya kurang tertarik pada Kristen Katolik.
Akhirnya
Vladimir mengirim utusan ke Kekaisaran
Bizantium untuk mempelajari Kristen Ortodoks. Delegasi yang dikirim ke
Konstantinopel, pusat Kekaisaran Bizantium, menghadiri Divine Liturgy (Ibadah
Suci) di Hagia Sophia. Mereka sangat terkesan dengan keagungan dan keindahan
upacara Ortodoks yang berlangsung di gereja besar ini. Dalam Kronik Nestor,
para utusan melaporkan kepada Vladimir bahwa di Konstantinopel mereka tidak
tahu apakah mereka berada di bumi atau di surga karena keindahan liturginya.
Vladimir lalu mengundang pastur-pastur Kristen Ortodoks untuk menjelaskan
agamanya. Ia terkesan dengan agama serta kekuatan politik dan budaya Kekaisaran
Bizantium. Selain itu, hubungan politik yang erat dengan Kekaisaran Bizantium,
yang merupakan kekuatan besar di wilayah itu, juga memberikan insentif politik
untuk Vladimir.
Vladimir
akhirnya memutuskan untuk memeluk Kristen Ortodoks. Pada tahun 988, Vladimir
secara resmi dibaptis di kota Chersonesus, di wilayah Krimea. Pembaptisannya
juga ditandai dengan pernikahan politik dengan Putri Anna, saudara perempuan
Kaisar Bizantium, Basil II, yang semakin mempererat hubungan antara Rus’ Kiev
dan Bizantium. Setelah itu, Vladimir memerintahkan agar seluruh rakyat Kiev
dibaptis dalam upacara besar di Sungai Dnieper. Paganisme lama di Rus’ Kiev
secara resmi ditinggalkan, dan Kristen Ortodoks menjadi agama negara.
Keputusan
Vladimir untuk memeluk Kristen Ortodoks memiliki dampak yang sangat besar
terhadap sejarah Rusia. Agama Kristen Ortodoks tidak hanya mempersatukan
wilayah Rus’ Kiev secara spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan budaya dan
politik dengan Kekaisaran Bizantium. Tradisi Kristen Ortodoks kemudian menjadi
elemen kunci dalam identitas nasional Rusia selama berabad-abad. Kristen
Ortodoks juga membawa pengaruh besar dalam bidang seni, arsitektur, sastra, dan
sistem hukum. Gereja-gereja megah mulai dibangun di seluruh Rus’ Kiev, dan
alfabet Cyrillic yang digunakan untuk menulis bahasa Slavik diperkenalkan, yang
sebagian besar masih digunakan di Rusia hingga saat ini.
Di masa modern, bangsa Rus’ Kiev yang direpresentasekan dengan Rusia
menjadi negara besar dengan kekuatan militer luar biasa. Rusia mayoritas
penduduk mengidentikkan diri sebagai penganut agama Kristen Ortodoks. Menurut
survey yang dilakukan oleh Sreda Arena di Rusia, terdapat 58,8 juta atau 41,1%
merupakan anggota Gereja Ortodoks, di tambah dengan 5,9 juta lagi menjadi
mengaku penganut Kristen Ortodoks tanpa menjadi anggota Gereja Ortodoks mana
pun, serta 400 ribu s.d. 1 juta atau 0,3 % peganut Kristen Ortodoks Lama yang
tidak mau bergabung dengan persekutuan Gereja Ortodoks lainnya. Gereja Ortodoks Rusia (Patriarkat Moscow) mempunyai 160
keuskupan, termasuk 30,142 paroki yang dilayani oleh 207 uskup, 28.434 imam dan
3.625 diaken. Ada 788 biara, termasuk 386 untuk biara pria dan 402 untuk biara
wanita. Presiden Rusia, Vladimir Putin juga
penganut agama Kristen Ortodoks. Komunisme di masa era Uni Sovyet gagal
melenyapkan keyakinan beragama orang-orang Rusia.
II. Bandingkan dengan Masuknya Islam di
Indonesia
Kehadiran Islam
di Indonesia pada abad ke-7 lalu berkembang pesat dan menjadi menjadi
subjek keheranan ilmiah bagi para ahli
sejarah karena kecepatan, skalanya, dan
adaptabilitas metode penyebarannya yang tidak biasa jika dibandingkan dengan
penyebaran Islam di wilayah lain. Islam di Indonesia berkembang
melalui pendekatan dakwah yang adaptif, berbeda dari metode penaklukan militer
yang terjadi di wilayah lain seperti Timur Tengah dan Afrika Utara. Para
peneliti mencatat bahwa dakwah Islam dilakukan secara damai melalui akulturasi
budaya, khususnya melalui perdagangan, pernikahan, seni,
dan adat istiadat. Metode ini sangat efektif karena agama baru tersebut
disebarkan oleh pedagang, ulama, dan sufi yang memahami kebutuhan lokal dan
tidak memaksakan ajaran Islam dengan kekerasan. Pendekatan yang ramah ini
membuat Islam lebih mudah diterima oleh penduduk lokal.
Dalam tahap awal, bahkan berbagai kebiasaan
raja dan rakyat yang tidak sesuai dengan syariat Islam ditolerir. Dakwah Islam
lebih diutamakan pada konversi agamanya dahulu, setelah itu barulah dibawa
sedikit demi sedikit dan secara bertahap dengan syariat Islam. Ada dua contoh
ketika dakwah Islam masuk ke Nusantara melalui para raja.
Penyebaran Islam secara massif di
Jawa mendapat dukungan dari Raja Majapahit, sekalipun Kerajaan Majapahit
beragama Hindu. Raja Majapahit, Brawijaya V (Bhre Wirabumi) menikahi perempuan
Cina Kamboja, Puteri Raja Campa yang beragama Islam. Pernikahan ini jelas “tidak sesuai hukum Islam,”
namun dari pernikahan inilah maka menjadi “jalan tol” tersebarnya Islam di
Tanah Jawa. Keponakan Puteri Campa ini, bernama
Raden Rahmat, putera Maulana Malik Ibrahim, kemudian datang menetap di Ampel
Denta, sehingga ia terkenal dengan nama Sunan Ampel. Atas dukungan Brawijaya V,
Raden Rahmat mendirikan Pesantren di sana mendidik para da’i yang melahirkan
da’i-da’i Wali Songo penyebar Islam di tanah Jawa, sedangkan murid-muridnya
yang lain menjadi pembawa Islam di Kalimantan dan Maluku, serta kawasan lain di
Nusantara. Ibu Sunan Ampel ini adalah saudara kandung Puteri Campa yang menikah
dengan Maulana Malik Ibrahim. Dengan kata lain, Raden Rahmat adalah peranakan
Cina Kamboja.
Seorang putera Brawijaya V dari
isterinya yang Cina Kamboja ini, yang bernama Jin Bun (versi Babad Tanah Jawi),
ada yang menyebut Cu-Cu (versi Sejarah Banten) kemudian dikenal dengan nama
Raden Fatah, setelah keruntuhan Majapahit lalu mendirikan Kerajaan Islam
pertama di tanah Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Kerajaan Demak tampil
memfasilitasi tersebarnya Islam di Nusantara.
Islam tersebar di tanah Sunda, juga karena
pernikahan antara Raja Siliwangi dengan Nyi Subang Larang. Dikisahkan bahwa
Raja Siliwangi memang tidak terlalu kukuh dengan ajaran Islam. Namun
anak-anaknya dengan Nyi Subang Larang dan cucu mereka menjadi dai dan ulama
yang kukuh dalam menyebarkan Islam, Anaknya, Pangeran Wulang Sungsang atau Ki
Samadullah menjadi da’i Islam. Anak perempuannya, Nyi Ratu Rara Santang, salah
satu anaknya adalah Syarif Hidayatullah, salah satu penyebar Islam di tanah
Jawa.
III. Asas Dakwah Moderat
Inilah asas dakwah “al-tadrij fi
al-tasyri” atau bertahap-tahap dalam menerapkan syariat Islam. Islam tidak
dipaksakan pada tahap awal ketika masih konversi agama, namun perlahan-lahan di
bawa dalam syariat ketika sudah kukuh menerima Islam. Jangan pada tahap awal,
sudah pada teriak “tolak ini dan itu,” “hancurkan ini dan itu.” Dakwah Islam
harus diawali dengan konversi Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat,
kuatkan utamakan aspek tauhidnya, baru bicara halal dan haram.
Imam
As-Sayyid Murtadha al-Zabidi menegaskan bahwa jika seseorang belum bisa
meninggalkan suatu budaya jelek secara total, maka strateginya adalah gantikan
budaya jeleknya itu dengan budaya lain yang jelek, tetapi lebih ringan
kejelekannya. Ia mencontohkan: jika seseorang terbiasa mencuci baju dengan
najis, maka bawa dahulu ke najis yang lebih ringan, lalu bawa ke air suci.
Misalnya, pada tahap awal ia senang mencuci pakaian dengan darah, maka ajak
dahulu mencuci pakaian dengan air kencing. Setelah ia menuruti, dan terbiasa
dengan air kencing, maka perkenalkan mencuci pakaian dengan air bersih. Inilah
prinsip dakwah “al-tadrij
fi al-tasyri” yang
sangat berhasil diterapkan di Indonesia oleh Wali Songo.
Andaikan Wali Songo-lah yang ditemui
oleh para utusan Kerajaan Rus’ Kiev atau ditemi Vladimir I, maka saat ini kemungkinan
besar “kita akan mengenal Kerajaan Islam di tanah Rusia.”
Namun saya lebih bersyukur lagi bahwa dakwah di Indonesia dibawa oleh Wali Songo dan para da’i yang menerapkan
prinsip “al-tadrij fi al-tasyri.” Seandainya para dai yang datang di Indonesia di abad ke-7 dan seterusnya,
selalu teriak “BID’AH” DAN “MENGHARAMKAN” kanan kiri, bahkan membuat kue ulang
tahun pun menjadi haram... Mungkin masyarakat Indonesia akan beragama seperti
Rusia di masa sekarang.
Kepustakaan
(1) Samuel Hazzard
Cross dan Olgerd P. Sherbowitz-Wetzor, "The
Russian Primary Chronicle: Laurentian Text", Harvard University Press, 2012.
(2) https://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan_di_Rusia
(3) Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, Bandung:
Mizan, 1996.
(4) Yuyus Suherman, Sejarah Perintisan Penyebaran
Islam Di Tatar Sunda (Jawa Barat), Bandung: Pustaka, 1995.
Posting Komentar untuk "ANDAIKAN METODE DAKWAH SEPERTI WALI SONGO, MAKA RUSIA AKAN MENJADI NEGERI MUSLIM"