REVITALISASI PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PUBLIK MENUJU EKOSISTEM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI BANGGAI LAUT
REVITALISASI PERAN FORUM KERUKUNAN
UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA
DAN PUBLIK MENUJU EKOSISTEM KERUKUNAN
UMAT BERAGAMA DI BANGGAI LAUT
Oleh: H. Hendra Umar, S.Ag, M.H[1]
Bung Karno, panggilan akrab Ir. Sukarno, Proklamator dan
Presiden R.I. pernah di buang Pemerintah Kolonial Belanda di Ende, Nusa
Tenggara Timur, selama 4 tahun lebih, dari tanggal 14 Januari 1934 s.d. 18
Oktober 1938. Di Ende inilah, Bung Karno lebih memperdalam pengetahuan Islamnya
melalui surat-suratnya dengan Ahmad Hassan, Ulama besar Persis. Ahmad Hassan mensuplai
Bung Karno dengan buku-buku Keislaman, menjadi guru Bung Karno, sekaligus lawan
debatnya yang paling sengit.
Di Ende, Bung Karno berteman baik
dengan para Pastor dari Ordo SVD (Serikat Sabda Allah), di antaranya Pastor Gerardus
Huijtink. Begitu akrabnya Huijtink dengan Bung Karno, bahkan Huijtink menyerahkan
kunci ruang kerjanya kepada Bung Karno agar bisa dimasuki kapan saja supaya
Bung Karno yang terkenal “kutu buku” bisa mengakses ratusan bukunya di ruangan
itu. Suatu ketika, Huijtink bertanya
dengan nada serius kepada Bung Karno: “Bung, jika suatu hari Indonesia
memperoleh kemerdekaannya, bagaimana seorang Bung Karno menyikapi ibunya yang
sebelumnya beragama Hindu,[2]
bapaknya yang muslim,[3]
dan rakyat Indonesia yang memeluk banyak agama?” Sejak saat itu, Bung Karno
lebih serius memikirkan dasar-dasar dan filosofi negara Indonesia jika merdeka
nanti. Berhari-hari Bung Karno termenung di bawah Pohon Sukun, seperti Sir
Isaac Newton yang termenung berhari-hari di bawah pohon arbei memikirkan hukum
gravitasi bumi. Di bawah pohon itulah, menurut pengakuan Bung Karno sendiri
bahwa ia memikirkan dan mulai merumuskan Pancasila yang kini kita kenal sebagai
dasar NKRI.
Kisah dialog antara
Bung Karno dan Pastor Gerardus Huijtink di Ende merupakan miniatur sempurna
dari proses lahirnya fondasi kebangsaan Indonesia. Cerita ini bukan sekadar
anekdot sejarah, melainkan sebuah model yang sangat relevan untuk
merevitalisasi peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam meningkatkan
kualitas pelayanan kehidupan beragama dan publik di Banggai Laut.
1. Dialog Kemanusiaan yang Melampaui
Batas Formalitas
Kunci pertama dari cerita tersebut
adalah hubungan Bung Karno dan Pastor Huijtink yang didasari oleh persahabatan tulus dan rasa saling percaya, bukan sekadar
hubungan formal antar tokoh. Pastor Huijtink menyerahkan kunci perpustakaannya
adalah simbol kepercayaan total.
FKUB
dibentuk sebagai garda terdepan dalam memelihara harmoni sosial di tingkat
daerah. Mandatnya, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri (PBM)
Agama dan Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006, adalah sebagai wadah dialog
para pemuka agama yang dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi oleh
pemerintah daerah. Namun, efektivitas FKUB sangat bergantung pada struktur
kelembagaan, kualitas program, dan tata kelolanya.
Sudah saatnya revitalisasi peran FKUB harus
dimulai dengan menggeser fokus dari sekadar "pertemuan rutin" atau
"forum formal" menjadi wadah untuk membangun persahabatan
sejati antar tokoh agama dan umat. Quote klasik Latin mengatakan: “Si
pompam orationum audire vis, erige podium. Si sinceram amicitiam, pulsa ianuam
meam et mecum colloquere. Jika anda ingin mendengar parade pidato, dirikanlah
podium. Jika anda ingin persahabatan yang tulus, ketuklah pintu rumahku dan
bicaralah padaku.”
Dialog informal adalah kunci untuk
membangun hubungan tulus yang melampaui sekat-sekat formalitas. Tujuannya
adalah memanusiakan "yang lain," membangun kepercayaan personal, dan
menciptakan jaring pengaman sosial yang efektif ketika ada gesekan di
masyarakat. Ekosistem
kerukunan umat beragama harus dibangun dengan modal kepercayaan. Ketika kepercayaan sudah terbangun,
dialog yang paling sulit pun menjadi lebih mudah.
Dialog-dialog informal
paling efektif mencairkan kebekuan dan mengubah hubungan dari "rekan kerja
di FKUB" menjadi "teman," tokoh agama saling mengenal satu sama
lain sebagai manusia – mengetahui tentang keluarga, hobi, atau kesukaan – bukan
hanya sebagai perwakilan agama. Jika
sudah akrab, seorang tokoh agama tidak akan ragu untuk menelepon rekannya untuk
sekadar bertanya atau mengklarifikasi isu sensitif secara langsung. Keakraban
yang tulus antar tokoh agama akan menjadi contoh nyata kerukunan bagi umat
masing-masing. Dialog informal bisa dibuat dalam bentuk kegiatan ringan,
berbiaya rendah bahkan nol rupiah, namun efektif. Misalnya:
v Ngopi kerukunan. Dengan jadwal tetap, misalnya: Jumat pertama setiap bulan untuk ngopi bareng
di warung kopi lokal secara bergiliran sambil berbincang santai membangun
relasi yang hangat.
v Gowes Kerukunan: Bersepeda santai bersama di akhir
pekan menyusuri rute desa atau dalam kota Banggai.
v Nonton Bareng: Menonton film inspiratif atau Timnas Sepakbola Indonesia di salah satu rumah
tokoh agama diteman pisang goreng dan penganan ringan.
v Menjenguk Anggota yang Sakit: Bersama-sama mengunjungi anggota FKUB atau keluarganya yang sedang
sakit.
v Donor Darah Bersama: Mengorganisir atau ikut serta dalam kegiatan donor darah.
v Patungan Membantu Warga: Secara spontan mengumpulkan dana untuk membantu warga sekitar yang
tertimpa musibah.
v Program "Sapa Warga": Berjalan-jalan bersama di sebuah perkampungan untuk menyapa dan
berdialog ringan dengan warga.
Terobosan-terobosan besar perdamaian dan penyelesaian
konflik sampai pada tingkat akar rumput, justru berakar pada
pertemuan-pertemuan informal, bukan pertemuan formal dengan parade sambutan,
pidato di podium yang menggelegar, gunting pita, pembacaan pernyataan sikap, atau
seminar. Penyelesaian ini sering kali
terjadi dalam pertemuan berkali-kali di kedai kopi, serangkaian proses dialog
yang non-formal, tulus, dan berbasis kepercayaan di luar jalur birokrasi resmi.
v Konflik komunal berskala besar antara kelompok Muslim dan Kristen di Poso,
Sulawesi Tengah (1998-2001) yang menelan ribuan korban jiwa. Meskipun
Perjanjian Malino I dan II menjadi penanda formal perdamaian, rekonsiliasi
sesungguhnya terjadi di tingkat akar rumput. Tokoh-tokoh agama seperti Pendeta Damanik dan Ustadz Adnan Arsal
secara proaktif mengadakan pertemuan-pertemuan kecil dan tidak resmi. Mereka
mengunjungi komunitas lawan, minum kopi di rumah-rumah warga, dan membangun
kembali hubungan personal yang hancur. Inisiatif seperti Sekolah Perempuan Perdamaian juga lahir dari dialog informal,
memberdayakan perempuan dari kedua belah pihak untuk menjadi agen damai di
keluarga dan lingkungan mereka.
v Kerusuhan hebat antara komunitas Kristen dan Muslim di Ambon, Maluku
(1999-2002). Di tengah ketegangan, muncul gerakan organik dari masyarakat yang
dikenal sebagai "Gandong" atau "Orang Basudara"
(Orang Bersaudara). Para pemuda, musisi, dan tokoh masyarakat dari kedua
komunitas bertemu secara diam-diam di tempat-tempat netral. Mereka menggunakan
musik dan olahraga sebagai jembatan. Selain itu, pasar-pasar lokal
menjadi arena diplomasi informal, di mana ibu-ibu dari kedua belah pihak mulai
berinteraksi kembali melalui transaksi jual-beli, yang secara bertahap
memulihkan kepercayaan sosial. Kelanjutan dari gerakan "Orang
Basudara", tradisi "Makan Patita" (makan bersama
di ruang publik dengan alas daun pisang panjang) dihidupkan kembali. Komunitas
Kristen dan Muslim secara bergiliran mengundang satu sama lain untuk makan
bersama. Ini bukan negosiasi, melainkan sebuah pesta rakyat yang tulus. Momen
berbagi makanan inilah yang efektif mencairkan kekakuan dan membangun kembali
ikatan persaudaraan yang sempat putus.
v Kerusuhan massa pada tahun 1996 di Situbondo, Jawa Timur, yang menyebabkan
puluhan gereja dirusak dan dibakar. Dalam suasana tegang pasca-kerusuhan,
tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) setempat mengambil langkah personal yang luar
biasa. Alm. Kyai Haji Achmad Sufyan Miftahul Arifin tidak hanya
mengutuk kekerasan, tetapi secara pribadi mendatangi para pendeta, meminta maaf
atas nama umat Islam, dan bahkan menggerakkan santrinya untuk
menjaga gereja-gereja yang sedang dibangun kembali. Tindakan simbolis
yang lahir dari dialog personal ini secara cepat mendinginkan situasi dan
menjadi model toleransi.
v Potensi gesekan etnis dan agama di Singkawang, Kalimantan Barat, yang
memiliki populasi Tionghoa, Dayak, dan Melayu (Tidayu) yang signifikan. Para
tokoh lintas etnis dan agama di Singkawang secara rutin mengadakan
pertemuan-pertemuan santai, sering kali di warung kopi atau rumah makan, untuk
menjaga komunikasi. Hasil paling nyata dari dialog informal ini adalah
transformasi perayaan Cap Go Meh. Acara ini sengaja dirancang
bersama untuk menjadi festival budaya milik semua etnis, bukan hanya perayaan
keagamaan Tionghoa. Proses perencanaan bersama yang informal inilah yang
menjadi kunci pencegahan konflik.
Kota Manado, tempat kelahiran saya adalah salah satu model
percontohan kerukunan umat beragama di Indonesia, bahkan diakui di tingkat
internasional. Bagaimana ekosistem kerukunan umat beragama tercipta di Manado?
Para pendeta,
pastor, wen shi (guru agama Kong Hu Chu), Bhikhu, dan kyai saling terhubung
akrab. Imam-imam masjid di kampung-kampung berteman dengan para pendeta, saling
mengunjungi jika merayakan hari-hari besar, saling berbagi hadiah, sama seperti
para remaja masjid dan pemuda gereja. Mereka
biasa bertemu di “Jarod (Jalan Roda),” suatu lorong jalanan ikonik yang berdiri
banyak warung kopi dan warung makan murah meriah di Manado. Mereka minum kopi,
makan bersama, dan saling berdialog. Tradisi “bakusedu” memperkuat keakraban. Suatu
pemandangan biasa di Kota Manado jika Shalat Idh di lapangan di jaga oleh
Pemuda Gereja, dan hari Natal gantian Pemuda dan Remaja Masjid menjaga gereja,
jauh-jauh hari sebelum tradisi menjaga Gereja dilakukan oleh Banser atas
dorongan oleh Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) setelah kasus kerusuhan Situbondo
tahun 1996.
Ada satu kejadian yang diposting di Facebook oleh
teman saya, Dr. Mardan Umar, Dosen UIN Manado, tepat di tanggal 25 Desember
2017, saat perayaan Natal. Suatu kejadian lumrah di Manado, tetapi sangat luar
biasa di daerah lain. Dr. Mardan tinggal di Kelurahan Mahawu, Kecamatan
Tuminting. Tepat di belakang rumahnya ada Gereja Getsemani Bailang yang besar
dan megah yang jemaatnya akan melakukan ibadat Natal. Namun salah seorang
tetangga mereka yang muslim tepat di hari itu wafat. Pendeta dan Jemaat Gereja
Getsemani Bailang dengan penuh rasa hormat menunda ibadat dan perayaan Natal.
Mereka mengunjungi tetangga muslim yang berduka sampai penguburan. Setelah itu,
mereka melanjutkan ibadatnya dengan menggunakan sound system indoor. Tindakan
spontan tanpa rekayasa ini merupakan wujud ekosistem kerukunan Kota Manado yang
berurat akar dari rasa saling percaya yang tulus.
Banggai Laut memiliki modal kearifan lokal dan
pengalaman berpuluh-puluh tahun membangun kerukunan dengan modal
kepercayaan. Dalam struktur Kerajaan
Banggai, Tomundo salah satunya dibantu oleh Jogugu sebagai Menteri Dalam
Negeri/Sekretaris Negara. Jogugu merekrut para kepala-kepala suku yang ada di
Banggai dan diberi gelar Kapitan untuk membangun kerukunan, saling
berinteraksi, saling berdialog, dan memecahkan berbagai masalah dalam
pertemuan-pertemuan kekeluargaan. Jika dikembangkan, maka tidak menutup
kemungkinan, Banggai Laut akan menjadi daerah percontohan model Kerukunan
Beragama di Indonesia selanjutnya.
2. Pertanyaan Kritis yang Membangun,
Bukan Menyerang
Pastor Huijtink tidak bertanya untuk
menguji atau menyudutkan Bung Karno. Ia mengajukan pertanyaan fundamental dan visioner
tentang masa depan bangsa yang plural. "Bagaimana seorang Bung Karno
menyikapi ibunya yang Hindu, bapaknya yang Muslim, dan rakyat yang memeluk
banyak agama?" Pertanyaan ini memicu Bung Karno untuk berpikir secara
mendalam, bukan defensif. Pertanyaan sederhana ini, lalu bermuara dirumuskannya
Pancasila, dasar NKRI.
Banyak gerakan luar
biasa tidak lahir dari forum seminar dan formal, tetapi justru lahir dari
pertemuan-pertemuan penuh persahabatan, saling percaya dan saling mendukung. Inovasi
tidak tidak lahir dari ruang yang kaku. Lingkungan yang santai, di mana ide
bisa mengalir bebas tanpa tekanan, sering kali menjadi tempat persemaian paling
subur bagi terobosan yang mengubah dunia, seperti dipikirkannya Pancasila oleh
Bung Karno yang dipicu oleh pertanyaan Pastor Huijtink.
Sudah saatnya FKUB diarahkan tidak
hanya sebatas meredam konflik (reaktif) seperti pemadam kebakaran, tetapi proaktif dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis
untuk masa depan Banggai Laut dalam pertemuan-pertemuan informal penuh
persahabatan demi melayani umat. Misalnya:
v "Bagaimana
nilai-nilai agama kita dapat berkontribusi secara nyata untuk mengatasi masalah
kemiskinan, pendidikan, atau stunting di daerah kita?"
v "Bagaimana
kita bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan Banggai Laut sebagai wujud
syukur kepada Tuhan?"
v "Bagaimana
kita memastikan generasi muda kita tidak terjebak dalam eksklusivisme
beragama?"
Dialog semacam ini mengangkat peran
FKUB dari "pemadam kebakaran" menjadi arsitek sosial. Ekosistem
kerukunan akan kita arahkan menjadi lebih produktif demi kemanusiaan.
Semua agama mengklaim kebenarannya
bersifat mutlak (thruth claim). Islam
mengklaim sebagai agama sempurna dan Nabi Muhammad saw. adalah penutup para
Nabi. Doktrin Kristen mengajarkan: Extra Ecclesiam Nulla Sallus,”di luar
gereja tidak ada keselamatan. Pertanyaan adalah, apakah cinta dan kasih sayang
hanya milik satu umat saja?
Islam mengklaim ajarannya adalah
rahmatan lil ‘alamiin (Q.S. al-Anbiya ayat 107). Doktrin kristen mengajarkan
Kasih Agape, cinta tertinggi dalam tradisi Kristen tanpa syarat, penuh
pengorbanan, dan tanpa mengharapkan balasan (Matius 22:37-38; Matius 22:39;
Matius 5:44 ). Bagi kaum Kristiani, Kasih adalah buah dari Roh Kudus dalam
kehidupan orang yang percaya (Galatia 5: 22-23). Kita punya ribuan ayat berbicara
rahmat, kasih sayang dan cinta, namun kita sering kali tutup ribuan ayat itu
dengan satu atau dua alasan untuk membenci, mencaci, dan menghancurkan. Padahal
Kristen dan Islam lahir sebagai dua saudara dari satu bapak yang sama.
Bapak-bapak Pendeta dan Pastor menyebutnya Abraham, saya dan saudara-saudara
Islam menyebutnya Ibrahim as. Anak Abraham/Ibrahim, Isaac/Ishaq beranak pinak
sampai kepada Yesus Kristus, dan kami menyebutnya Isa al-Masih, lalu anaknya
yang lain Ishmael/Ismail as. beranak pinak menurunkan Nabi Muhammad saw. Jika
memang kita (Kristen-Islam) adalah dua bersaudara sebapak, mengapa kita tidak
bersatu untuk melayani umat di Banggai Laut ini untuk kemanusiaan?
Yesus Kristus (melalui
Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati) berfirman: "Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri." (Lukas 10:27).
Kutipan terkenal dari Imam Ali bin Abi Thalib ra. :
النَّاسُ
صِنْفَانِ: إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّيْنِ، أَوْ نَظِيْرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ .
“Manusia terbagi dua, (lihatlah) dia saudaramu
seagama, atau lihatlah dia (saudaramu) sebagai ciptaan Tuhan.”
3. Dari Refleksi Mendalam Menjadi Aksi
Konkret
Pertanyaan Pastor
Huijtink mendorong Bung Karno untuk merenung di bawah Pohon Sukun, yang
akhirnya melahirkan gagasan Pancasila. Ada proses transisi.
Dialog
(input) → perenungan (proses) → gagasan dasar negara (output).
Hasil pertemuan FKUB
jangan hanya berhenti pada notulensi atau kesepakatan verbal. Harus ada ruang
dan waktu untuk refleksi bersama yang kemudian diterjemahkan menjadi program aksi nyata yang berdampak langsung pada pelayanan
publik.
Mari kita belajar dari
Kabupaten Salatiga, salah satu "Laboratorium Toleransi" di Indonesia. Kota Salatiga secara konsisten
menempati peringkat teratas sebagai kota paling toleran di Indonesia.
Keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari kerja
sistematis FKUB-nya yang mengadopsi pendekatan inovatif berbasis komunitas.
Filosofi dasar FKUB Salatiga adalah tidak hanya berfokus pada "pencegahan
konflik", tetapi secara proaktif "memupuk" dan
"merayakan" harmoni melalui interaksi sosial yang positif dan
bermakna.FKUB Salatiga
menerjemahkan filosofinya ke dalam serangkaian program nyata yang menyentuh
berbagai lapisan masyarakat, jauh melampaui rapat-rapat formal :
1. Pemberdayaan Generasi Muda:
Menyadari pentingnya regenerasi, FKUB Salatiga secara aktif membentuk dan
membina "Konsolidasi Pemuda Lintas Agama" dan mengukuhkan "Kader
Generasi Muda Toleransi". Inisiatif ini menciptakan agen-agen kerukunan
baru di kalangan milenial dan Gen Z, memastikan bahwa nilai-nilai toleransi
diwariskan dan terus relevan.
2. Aksi Sosial Lintas Iman.
Program-program FKUB Salatiga seringkali berwujud aksi kemanusiaan yang
melampaui sekat-sekat agama. Kegiatan seperti bakti sosial pemeriksaan mata dan
operasi katarak gratis yang diselenggarakan bersama oleh berbagai komunitas
agama membangun rasa solidaritas dan empati. Ketika warga dari latar belakang
berbeda bekerja sama untuk tujuan kemanusiaan, ikatan sosial yang terbentuk
menjadi lebih kuat daripada potensi perpecahan.
3. Inovasi Ekonomi dan Pariwisata.
Salah satu gagasan paling visioner dari FKUB Salatiga adalah pengembangan
"Taman Wisata Religi". Proyek ini dirancang sebagai ruang publik
bersama yang tidak hanya menjadi simbol fisik kerukunan, tetapi juga memiliki
potensi untuk mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pariwisata.
Ini adalah contoh bagaimana kerukunan dapat diterjemahkan menjadi
kesejahteraan.
4. Diplomasi dan Pembangunan Jaringan,
FKUB Salatiga tidak menutup diri. Mereka aktif membangun jaringan dengan melakukan
kunjungan studi ke luar negeri (seperti ke Filipina) dan secara rutin menerima
kunjungan studi banding dari berbagai daerah di Indonesia. Posisi ini
menjadikan Salatiga bukan hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai pusat
pembelajaran dan inspirasi bagi daerah lain dalam merawat toleransi.
Kepustakaan
Al-Fattah, Iwan Mahmud, Bung Karno Dalam Pusaran Islam: Menguak
Pemikiran, Kontroversi, Perjalanan Panjang Sang Putra Fajar Dengan Organisasi
dan Para Tokoh Islam, Cet. II; Bantul: Mata Kata Inspirasi, 2022.
Daras, Roso dan Egy Massadiah, Bung
Karno: Ata Ende, Cet.I; Jakarta: CakrismA, 2013.
Darlis, Andi Muh., Konflik
Komunal: Studi dan Rekonsiliasi Konflik Poso, Cet. I; Yogyakarta, Litera,
2012.
Hendrowinoto, Nurinda Ki S., Ayah Bunda Sukarno: R. Soekeni
Sosrodihardjo, Nyoman Rai Srimben, Cet. I; Jakarta: Yayasan Pustaka
Biografi Indonesia, 2002.
Pusat Studi Agama dan Demokrasi
(PUSAD) Yayasan Wakaf Paramadina, Meninjau Kembali Peraturan Bersama Menteri
2006 dan Peran Forum Kerukunan Umat Beragama: Temuan dari Pangkalan Data, Laporan
Riset, 2020.
Raden, Sahran, Hukum Tata Negara
Adat Kerajaan Banggai, Cet. I; Bogor, Divya Media Pustaka, 2025.
Shihab, Alwi, Islam Inklusif:
Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Cet. V; Bandung: Mizan, 1995.
[1]Wakil Ketua I
FKUB Kabupaten Banggai Laut. Ketua Tanfidziyah PCNU Banggai Laut.
[2]Ibu Sukarno,
Ida Ayu Nyoman Rai Srimben atau Idayu (1881-1958) berasal dari Bali, puteri
kedua I Made Pasek dan Ni Made Liran. Idayu adalah salah satu keluarga
bangsawan Bali dari kasta Brahmana, kasta Pendeta yang menjadi kasta tertinggi
di Bali dan keturunan raja Singasari,
konon keturunan ke-14 dari leluhur keluarga Bale Agung Buleleng
Singajara. Ketika menikah, lalu masuk Islam.
[3]Ayahnya Sukarno
adalah Raden Soekemi Sosrodiharjo, salah satu
putera dari 8 orang anak Raden Hardjodikromo (1840-1908), seorang
priyayi Jawa keturunan bangsawan Kediri seperti yang ditunjukkan dengan gelar
“raden” pada namanya, yaitu keturunan ke-14 Pangeran Raden Bondan Kejawen
(1468-1518) yang dikenal Raden Lembu Peteng, putra Prabu Brawijaya V, raja
terakhir Majapahit (1468-1478). Sekali pun Ayah Sukarno beragama Islam, lebih
condong mengamalkan Kejawen.
Posting Komentar untuk "REVITALISASI PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PUBLIK MENUJU EKOSISTEM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI BANGGAI LAUT"