Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

REVITALISASI PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PUBLIK MENUJU EKOSISTEM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI BANGGAI LAUT

 

REVITALISASI PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PUBLIK  MENUJU EKOSISTEM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI BANGGAI LAUT

Oleh: H. Hendra Umar, S.Ag, M.H[1]

 

            Bung Karno,  panggilan akrab Ir. Sukarno, Proklamator dan Presiden R.I. pernah di buang Pemerintah Kolonial Belanda di Ende, Nusa Tenggara Timur, selama 4 tahun lebih, dari tanggal 14 Januari 1934 s.d. 18 Oktober 1938. Di Ende inilah, Bung Karno lebih memperdalam pengetahuan Islamnya melalui surat-suratnya dengan Ahmad Hassan, Ulama besar Persis. Ahmad Hassan mensuplai Bung Karno dengan buku-buku Keislaman, menjadi guru Bung Karno, sekaligus lawan debatnya yang paling sengit.

 


Di Ende, Bung Karno berteman baik dengan para Pastor dari Ordo SVD (Serikat Sabda Allah), di antaranya Pastor Gerardus Huijtink. Begitu akrabnya Huijtink dengan Bung Karno, bahkan Huijtink menyerahkan kunci ruang kerjanya kepada Bung Karno agar bisa dimasuki kapan saja supaya Bung Karno yang terkenal “kutu buku” bisa mengakses ratusan bukunya di ruangan itu.   Suatu ketika, Huijtink bertanya dengan nada serius kepada Bung Karno: “Bung, jika suatu hari Indonesia memperoleh kemerdekaannya, bagaimana seorang Bung Karno menyikapi ibunya yang sebelumnya beragama Hindu,[2] bapaknya yang muslim,[3] dan rakyat Indonesia yang memeluk banyak agama?” Sejak saat itu, Bung Karno lebih serius memikirkan dasar-dasar dan filosofi negara Indonesia jika merdeka nanti. Berhari-hari Bung Karno termenung di bawah Pohon Sukun, seperti Sir Isaac Newton yang termenung berhari-hari di bawah pohon arbei memikirkan hukum gravitasi bumi. Di bawah pohon itulah, menurut pengakuan Bung Karno sendiri bahwa ia memikirkan dan mulai merumuskan Pancasila yang kini kita kenal sebagai dasar NKRI.




Kisah dialog antara Bung Karno dan Pastor Gerardus Huijtink di Ende merupakan miniatur sempurna dari proses lahirnya fondasi kebangsaan Indonesia. Cerita ini bukan sekadar anekdot sejarah, melainkan sebuah model yang sangat relevan untuk merevitalisasi peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama dan publik di Banggai Laut.

1. Dialog Kemanusiaan yang Melampaui Batas Formalitas

Kunci pertama dari cerita tersebut adalah hubungan Bung Karno dan Pastor Huijtink yang didasari oleh persahabatan tulus dan rasa saling percaya, bukan sekadar hubungan formal antar tokoh. Pastor Huijtink menyerahkan kunci perpustakaannya adalah simbol kepercayaan total.

FKUB dibentuk sebagai garda terdepan dalam memelihara harmoni sosial di tingkat daerah. Mandatnya, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006, adalah sebagai wadah dialog para pemuka agama yang dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah daerah. Namun, efektivitas FKUB sangat bergantung pada struktur kelembagaan, kualitas program, dan tata kelolanya.

 Sudah saatnya revitalisasi peran FKUB harus dimulai dengan menggeser fokus dari sekadar "pertemuan rutin" atau "forum formal" menjadi wadah untuk membangun persahabatan sejati antar tokoh agama dan umat. Quote klasik Latin mengatakan: Si pompam orationum audire vis, erige podium. Si sinceram amicitiam, pulsa ianuam meam et mecum colloquere. Jika anda ingin mendengar parade pidato, dirikanlah podium. Jika anda ingin persahabatan yang tulus, ketuklah pintu rumahku dan bicaralah padaku.”

Dialog informal adalah kunci untuk membangun hubungan tulus yang melampaui sekat-sekat formalitas. Tujuannya adalah memanusiakan "yang lain," membangun kepercayaan personal, dan menciptakan jaring pengaman sosial yang efektif ketika ada gesekan di masyarakat. Ekosistem kerukunan umat beragama harus dibangun dengan modal kepercayaan. Ketika kepercayaan sudah terbangun, dialog yang paling sulit pun menjadi lebih mudah.

Dialog-dialog informal paling efektif mencairkan kebekuan dan mengubah hubungan dari "rekan kerja di FKUB" menjadi "teman," tokoh agama saling mengenal satu sama lain sebagai manusia – mengetahui tentang keluarga, hobi, atau kesukaan – bukan  hanya sebagai perwakilan agama. Jika sudah akrab, seorang tokoh agama tidak akan ragu untuk menelepon rekannya untuk sekadar bertanya atau mengklarifikasi isu sensitif secara langsung. Keakraban yang tulus antar tokoh agama akan menjadi contoh nyata kerukunan bagi umat masing-masing. Dialog informal bisa dibuat dalam bentuk kegiatan ringan, berbiaya rendah bahkan nol rupiah, namun efektif. Misalnya:

v  Ngopi kerukunan. Dengan jadwal tetap, misalnya: Jumat pertama setiap bulan untuk ngopi bareng di warung kopi lokal secara bergiliran sambil berbincang santai membangun relasi yang hangat.

v  Gowes Kerukunan: Bersepeda santai bersama di akhir pekan menyusuri rute desa atau dalam kota Banggai.

v  Nonton Bareng: Menonton film inspiratif atau  Timnas Sepakbola Indonesia di salah satu rumah tokoh agama diteman pisang goreng dan penganan ringan.

v  Menjenguk Anggota yang Sakit: Bersama-sama mengunjungi anggota FKUB atau keluarganya yang sedang sakit.

v  Donor Darah Bersama: Mengorganisir atau ikut serta dalam kegiatan donor darah.

v  Patungan Membantu Warga: Secara spontan mengumpulkan dana untuk membantu warga sekitar yang tertimpa musibah.

v  Program "Sapa Warga": Berjalan-jalan bersama di sebuah perkampungan untuk menyapa dan berdialog ringan dengan warga.

Terobosan-terobosan besar perdamaian dan penyelesaian konflik sampai pada tingkat akar rumput, justru berakar pada pertemuan-pertemuan informal, bukan pertemuan formal dengan parade sambutan, pidato di podium yang menggelegar, gunting pita, pembacaan pernyataan sikap, atau seminar.  Penyelesaian ini sering kali terjadi dalam pertemuan berkali-kali di kedai kopi, serangkaian proses dialog yang non-formal, tulus, dan berbasis kepercayaan di luar jalur birokrasi resmi.

 

v  Konflik komunal berskala besar antara kelompok Muslim dan Kristen di Poso, Sulawesi Tengah (1998-2001) yang menelan ribuan korban jiwa. Meskipun Perjanjian Malino I dan II menjadi penanda formal perdamaian, rekonsiliasi sesungguhnya terjadi di tingkat akar rumput. Tokoh-tokoh agama seperti Pendeta Damanik dan Ustadz Adnan Arsal secara proaktif mengadakan pertemuan-pertemuan kecil dan tidak resmi. Mereka mengunjungi komunitas lawan, minum kopi di rumah-rumah warga, dan membangun kembali hubungan personal yang hancur. Inisiatif seperti Sekolah Perempuan Perdamaian juga lahir dari dialog informal, memberdayakan perempuan dari kedua belah pihak untuk menjadi agen damai di keluarga dan lingkungan mereka.

v  Kerusuhan hebat antara komunitas Kristen dan Muslim di Ambon, Maluku (1999-2002). Di tengah ketegangan, muncul gerakan organik dari masyarakat yang dikenal sebagai "Gandong" atau "Orang Basudara" (Orang Bersaudara). Para pemuda, musisi, dan tokoh masyarakat dari kedua komunitas bertemu secara diam-diam di tempat-tempat netral. Mereka menggunakan musik dan olahraga sebagai jembatan. Selain itu, pasar-pasar lokal menjadi arena diplomasi informal, di mana ibu-ibu dari kedua belah pihak mulai berinteraksi kembali melalui transaksi jual-beli, yang secara bertahap memulihkan kepercayaan sosial. Kelanjutan dari gerakan "Orang Basudara", tradisi "Makan Patita" (makan bersama di ruang publik dengan alas daun pisang panjang) dihidupkan kembali. Komunitas Kristen dan Muslim secara bergiliran mengundang satu sama lain untuk makan bersama. Ini bukan negosiasi, melainkan sebuah pesta rakyat yang tulus. Momen berbagi makanan inilah yang efektif mencairkan kekakuan dan membangun kembali ikatan persaudaraan yang sempat putus.

v  Kerusuhan massa pada tahun 1996 di Situbondo, Jawa Timur, yang menyebabkan puluhan gereja dirusak dan dibakar. Dalam suasana tegang pasca-kerusuhan, tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) setempat mengambil langkah personal yang luar biasa. Alm. Kyai Haji Achmad Sufyan Miftahul Arifin tidak hanya mengutuk kekerasan, tetapi secara pribadi mendatangi para pendeta, meminta maaf atas nama umat Islam, dan bahkan menggerakkan santrinya untuk menjaga gereja-gereja yang sedang dibangun kembali. Tindakan simbolis yang lahir dari dialog personal ini secara cepat mendinginkan situasi dan menjadi model toleransi.

v  Potensi gesekan etnis dan agama di Singkawang, Kalimantan Barat, yang memiliki populasi Tionghoa, Dayak, dan Melayu (Tidayu) yang signifikan. Para tokoh lintas etnis dan agama di Singkawang secara rutin mengadakan pertemuan-pertemuan santai, sering kali di warung kopi atau rumah makan, untuk menjaga komunikasi. Hasil paling nyata dari dialog informal ini adalah transformasi perayaan Cap Go Meh. Acara ini sengaja dirancang bersama untuk menjadi festival budaya milik semua etnis, bukan hanya perayaan keagamaan Tionghoa. Proses perencanaan bersama yang informal inilah yang menjadi kunci pencegahan konflik.

 

Kota Manado, tempat kelahiran saya adalah salah satu model percontohan kerukunan umat beragama di Indonesia, bahkan diakui di tingkat internasional. Bagaimana ekosistem kerukunan umat beragama tercipta di Manado?

 

 Para pendeta, pastor, wen shi (guru agama Kong Hu Chu), Bhikhu, dan kyai saling terhubung akrab. Imam-imam masjid di kampung-kampung berteman dengan para pendeta, saling mengunjungi jika merayakan hari-hari besar, saling berbagi hadiah, sama seperti para remaja masjid dan pemuda  gereja. Mereka biasa bertemu di “Jarod (Jalan Roda),” suatu lorong jalanan ikonik yang berdiri banyak warung kopi dan warung makan murah meriah di Manado. Mereka minum kopi, makan bersama, dan saling berdialog. Tradisi “bakusedu” memperkuat keakraban. Suatu pemandangan biasa di Kota Manado jika Shalat Idh di lapangan di jaga oleh Pemuda Gereja, dan hari Natal gantian Pemuda dan Remaja Masjid menjaga gereja, jauh-jauh hari sebelum tradisi menjaga Gereja dilakukan oleh Banser atas dorongan oleh Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) setelah kasus kerusuhan Situbondo tahun 1996.  

 

Ada satu kejadian yang diposting di Facebook oleh teman saya, Dr. Mardan Umar, Dosen UIN Manado, tepat di tanggal 25 Desember 2017, saat perayaan Natal. Suatu kejadian lumrah di Manado, tetapi sangat luar biasa di daerah lain. Dr. Mardan tinggal di Kelurahan Mahawu, Kecamatan Tuminting. Tepat di belakang rumahnya ada Gereja Getsemani Bailang yang besar dan megah yang jemaatnya akan melakukan ibadat Natal. Namun salah seorang tetangga mereka yang muslim tepat di hari itu wafat. Pendeta dan Jemaat Gereja Getsemani Bailang dengan penuh rasa hormat menunda ibadat dan perayaan Natal. Mereka mengunjungi tetangga muslim yang berduka sampai penguburan. Setelah itu, mereka melanjutkan ibadatnya dengan menggunakan sound system indoor. Tindakan spontan tanpa rekayasa ini merupakan wujud ekosistem kerukunan Kota Manado yang berurat akar dari rasa saling percaya yang tulus.

 

Banggai Laut memiliki modal kearifan lokal dan pengalaman berpuluh-puluh tahun membangun kerukunan dengan modal kepercayaan.  Dalam struktur Kerajaan Banggai, Tomundo salah satunya dibantu oleh Jogugu sebagai Menteri Dalam Negeri/Sekretaris Negara. Jogugu merekrut para kepala-kepala suku yang ada di Banggai dan diberi gelar Kapitan untuk membangun kerukunan, saling berinteraksi, saling berdialog, dan memecahkan berbagai masalah dalam pertemuan-pertemuan kekeluargaan. Jika dikembangkan, maka tidak menutup kemungkinan, Banggai Laut akan menjadi daerah percontohan model Kerukunan Beragama di Indonesia selanjutnya.

2. Pertanyaan Kritis yang Membangun, Bukan Menyerang

Pastor Huijtink tidak bertanya untuk menguji atau menyudutkan Bung Karno. Ia mengajukan pertanyaan fundamental dan visioner tentang masa depan bangsa yang plural. "Bagaimana seorang Bung Karno menyikapi ibunya yang Hindu, bapaknya yang Muslim, dan rakyat yang memeluk banyak agama?" Pertanyaan ini memicu Bung Karno untuk berpikir secara mendalam, bukan defensif. Pertanyaan sederhana ini, lalu bermuara dirumuskannya Pancasila, dasar NKRI.

Banyak gerakan luar biasa tidak lahir dari forum seminar dan formal, tetapi justru lahir dari pertemuan-pertemuan penuh persahabatan, saling percaya dan saling mendukung. Inovasi tidak tidak lahir dari ruang yang kaku. Lingkungan yang santai, di mana ide bisa mengalir bebas tanpa tekanan, sering kali menjadi tempat persemaian paling subur bagi terobosan yang mengubah dunia, seperti dipikirkannya Pancasila oleh Bung Karno yang dipicu oleh pertanyaan Pastor Huijtink.

Sudah saatnya FKUB diarahkan tidak hanya sebatas meredam konflik (reaktif) seperti pemadam kebakaran, tetapi proaktif dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk masa depan Banggai Laut dalam pertemuan-pertemuan informal penuh persahabatan demi melayani umat. Misalnya:

v  "Bagaimana nilai-nilai agama kita dapat berkontribusi secara nyata untuk mengatasi masalah kemiskinan, pendidikan, atau stunting di daerah kita?"

v  "Bagaimana kita bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan Banggai Laut sebagai wujud syukur kepada Tuhan?"

v  "Bagaimana kita memastikan generasi muda kita tidak terjebak dalam eksklusivisme beragama?"

Dialog semacam ini mengangkat peran FKUB dari "pemadam kebakaran" menjadi arsitek sosial. Ekosistem kerukunan akan kita arahkan menjadi lebih produktif demi kemanusiaan.

Semua agama mengklaim kebenarannya bersifat mutlak  (thruth claim). Islam mengklaim sebagai agama sempurna dan Nabi Muhammad saw. adalah penutup para Nabi. Doktrin Kristen mengajarkan: Extra Ecclesiam Nulla Sallus,”di luar gereja tidak ada keselamatan. Pertanyaan adalah, apakah cinta dan kasih sayang hanya milik satu umat saja?

Islam mengklaim ajarannya adalah rahmatan lil ‘alamiin (Q.S. al-Anbiya ayat 107). Doktrin kristen mengajarkan Kasih Agape, cinta tertinggi dalam tradisi Kristen tanpa syarat, penuh pengorbanan, dan tanpa mengharapkan balasan (Matius 22:37-38; Matius 22:39; Matius 5:44 ). Bagi kaum Kristiani, Kasih adalah buah dari Roh Kudus dalam kehidupan orang yang percaya (Galatia 5: 22-23). Kita punya ribuan ayat berbicara rahmat, kasih sayang dan cinta, namun kita sering kali tutup ribuan ayat itu dengan satu atau dua alasan untuk membenci, mencaci, dan menghancurkan. Padahal Kristen dan Islam lahir sebagai dua saudara dari satu bapak yang sama. Bapak-bapak Pendeta dan Pastor menyebutnya Abraham, saya dan saudara-saudara Islam menyebutnya Ibrahim as. Anak Abraham/Ibrahim, Isaac/Ishaq beranak pinak sampai kepada Yesus Kristus, dan kami menyebutnya Isa al-Masih, lalu anaknya yang lain Ishmael/Ismail as. beranak pinak menurunkan Nabi Muhammad saw. Jika memang kita (Kristen-Islam) adalah dua bersaudara sebapak, mengapa kita tidak bersatu untuk melayani umat di Banggai Laut ini untuk kemanusiaan?

Yesus Kristus (melalui Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati) berfirman: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Lukas 10:27).

Kutipan terkenal dari Imam Ali bin Abi Thalib ra. :

النَّاسُ صِنْفَانِ: إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّيْنِ، أَوْ نَظِيْرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ .

“Manusia terbagi dua, (lihatlah) dia saudaramu seagama, atau lihatlah dia (saudaramu) sebagai ciptaan Tuhan.”

3. Dari Refleksi Mendalam Menjadi Aksi Konkret

Pertanyaan Pastor Huijtink mendorong Bung Karno untuk merenung di bawah Pohon Sukun, yang akhirnya melahirkan gagasan Pancasila. Ada proses transisi.

Dialog (input) → perenungan (proses) → gagasan dasar negara (output).

Hasil pertemuan FKUB jangan hanya berhenti pada notulensi atau kesepakatan verbal. Harus ada ruang dan waktu untuk refleksi bersama yang kemudian diterjemahkan menjadi program aksi nyata yang berdampak langsung pada pelayanan publik.

Mari kita belajar dari Kabupaten Salatiga, salah satu "Laboratorium Toleransi"  di Indonesia. Kota Salatiga secara konsisten menempati peringkat teratas sebagai kota paling toleran di Indonesia. Keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari kerja sistematis FKUB-nya yang mengadopsi pendekatan inovatif berbasis komunitas. Filosofi dasar FKUB Salatiga adalah tidak hanya berfokus pada "pencegahan konflik", tetapi secara proaktif "memupuk" dan "merayakan" harmoni melalui interaksi sosial yang positif dan bermakna.   FKUB Salatiga menerjemahkan filosofinya ke dalam serangkaian program nyata yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, jauh melampaui rapat-rapat formal :  

1.   Pemberdayaan Generasi Muda: Menyadari pentingnya regenerasi, FKUB Salatiga secara aktif membentuk dan membina "Konsolidasi Pemuda Lintas Agama" dan mengukuhkan "Kader Generasi Muda Toleransi". Inisiatif ini menciptakan agen-agen kerukunan baru di kalangan milenial dan Gen Z, memastikan bahwa nilai-nilai toleransi diwariskan dan terus relevan.  

2.       Aksi Sosial Lintas Iman. Program-program FKUB Salatiga seringkali berwujud aksi kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat agama. Kegiatan seperti bakti sosial pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis yang diselenggarakan bersama oleh berbagai komunitas agama membangun rasa solidaritas dan empati. Ketika warga dari latar belakang berbeda bekerja sama untuk tujuan kemanusiaan, ikatan sosial yang terbentuk menjadi lebih kuat daripada potensi perpecahan.  

3.    Inovasi Ekonomi dan Pariwisata. Salah satu gagasan paling visioner dari FKUB Salatiga adalah pengembangan "Taman Wisata Religi". Proyek ini dirancang sebagai ruang publik bersama yang tidak hanya menjadi simbol fisik kerukunan, tetapi juga memiliki potensi untuk mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pariwisata. Ini adalah contoh bagaimana kerukunan dapat diterjemahkan menjadi kesejahteraan.  

4.   Diplomasi dan Pembangunan Jaringan, FKUB Salatiga tidak menutup diri. Mereka aktif membangun jaringan dengan melakukan kunjungan studi ke luar negeri (seperti ke Filipina) dan secara rutin menerima kunjungan studi banding dari berbagai daerah di Indonesia. Posisi ini menjadikan Salatiga bukan hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan inspirasi bagi daerah lain dalam merawat toleransi.  

 


 

Kepustakaan

 

Al-Fattah, Iwan Mahmud, Bung Karno Dalam Pusaran Islam: Menguak Pemikiran, Kontroversi, Perjalanan Panjang Sang Putra Fajar Dengan Organisasi dan Para Tokoh Islam, Cet. II; Bantul: Mata Kata Inspirasi, 2022.

 

Daras, Roso dan Egy Massadiah, Bung Karno: Ata Ende, Cet.I; Jakarta: CakrismA, 2013.

 

Darlis, Andi Muh., Konflik Komunal: Studi dan Rekonsiliasi Konflik Poso, Cet. I; Yogyakarta, Litera, 2012.

 

Hendrowinoto, Nurinda Ki S., Ayah Bunda Sukarno: R. Soekeni Sosrodihardjo, Nyoman Rai Srimben, Cet. I; Jakarta: Yayasan Pustaka Biografi Indonesia, 2002.

 

Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Wakaf Paramadina, Meninjau Kembali Peraturan Bersama Menteri 2006 dan Peran Forum Kerukunan Umat Beragama: Temuan dari Pangkalan Data, Laporan Riset, 2020.

 

Raden, Sahran, Hukum Tata Negara Adat Kerajaan Banggai, Cet. I; Bogor, Divya Media Pustaka, 2025.

 

Shihab, Alwi, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Cet. V; Bandung: Mizan, 1995.



[1]Wakil Ketua I FKUB Kabupaten Banggai Laut. Ketua Tanfidziyah PCNU Banggai Laut.

[2]Ibu Sukarno, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben atau Idayu (1881-1958) berasal dari Bali, puteri kedua I Made Pasek dan Ni Made Liran. Idayu adalah salah satu keluarga bangsawan Bali dari kasta Brahmana, kasta Pendeta yang menjadi kasta tertinggi di Bali dan keturunan raja Singasari,  konon keturunan ke-14 dari leluhur keluarga Bale Agung Buleleng Singajara. Ketika menikah, lalu masuk Islam.

[3]Ayahnya Sukarno adalah Raden Soekemi Sosrodiharjo, salah satu  putera dari 8 orang anak Raden Hardjodikromo (1840-1908), seorang priyayi Jawa keturunan bangsawan Kediri seperti yang ditunjukkan dengan gelar “raden” pada namanya, yaitu keturunan ke-14 Pangeran Raden Bondan Kejawen (1468-1518) yang dikenal Raden Lembu Peteng, putra Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit (1468-1478). Sekali pun Ayah Sukarno beragama Islam, lebih condong mengamalkan Kejawen.

Posting Komentar untuk "REVITALISASI PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PUBLIK MENUJU EKOSISTEM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI BANGGAI LAUT"