BENDERA “HTI,” BUKAN BENDERA TAUHID. TAUHID TIDAK ADA BENDERANYA. JANGAN DIYAKINI SEBAGAI BENDERA RASULULLAH SAW. ITU BENDERA HTI
BENDERA “HTI,” BUKAN BENDERA TAUHID.
TAUHID TIDAK ADA BENDERANYA.
JANGAN DIYAKINI SEBAGAI BENDERA RASULULLAH SAW.
ITU BENDERA HTI
Oleh: H. Hendra Umar, S.Ag, MH
Di
Platform Threads, ada seseorang mengklaim bahwa bendera HTI dengan tulisan “la
ilaaha illallah, muhammadarrasulullaah” yang telah dikenal di mana-mana
tersebut sebagai bendera Tauhid. Saya geli sendiri, lucu, dan nampak sekali
awam dan gampang dikibulin para dedengkot HTI.
Pertama,
Tauhid tidak punya bendera. Sejak kapan tauhid punya bendera. Mana
dalilnya? Tunjukkan dalilnya bahwa tauhid punya bendera! Jika hanya karena ada
tulisan “la ilaaha illallah, muhammadarrasulullaah,” maka semua benda akan diklaim
Tauhid, sungguh akan menjadi lelucon. Akan ada mobil tauhid karena ditempel
stiker kalimat tersebut. Akan ada baju tauhid karena digambar dengan tulisan
ini. Lalu HP tauhid, ember tauhid, polpen tauhid, laptop tauhid, tas tauhid,
topi tauhid, dan sederet benda tauhid lainnya. Tauhid sebagai sistem keyakinan
di hati, lalu pindah ke benda-benda hanya karena punya tulisan tersebut. Akidah
umat Islam akhirnya menjadi kacau.
Orang-orang yang menyebutnya bendera tauhid
malah tidak istiqamah. Ketika kalimat yang sama ditulis di atas kain hijau dan
dikibarkan, lucunya, mereka tidak menyebutnya bendera tauhid, tetapi bendera
Kerajaan Arab Saudi. Memang akan garing
kelucuannya jika menyebutnya bendera tauhid. Kok tauhid kalah 2-0 oleh Timnas
Garuda di GBK, lalu anda dan saya sebagai muslim dan muslimah.... malah gembira,
senang, bahkan merayakannya sebagai kemenangan yang besar. Bahaya menjadikan
benda-benda merepresentasekan keyakinan tauhid.
Kedua, itu bukan bendera Rasulullah saw.
yang disebut sebagai al-Liwa dan ar-Rayah. Haditsnya sangat lemah dan tidak
dapat dijadikan sebagai landasan dalil bahwa bendera hitam dan putih bertuliskan
la ilaaha illallah, muhammadarrasulullaah, adalah bendera Rasulullah saw. Hadits yang menjelaskan tentang bendera Rasulullah saw. bertuliskan
“la ilaaha illallah, muhammadarrasulullaah ini” yang dinisbahkan kepada Abdullah
bin Abbas ra. ditegaskan oleh Imam Ath-Thabrani (Mu’jam
al-Awsath, hadits 219 Juz I, h. 77, Maktabah
Syaamilah):
حدثنا أحمد بن رشدين قال حدثنا عبد الغفار بن
داود أبو صالح الحراني قال حدثنا حيان بن عبيد الله قال حدثنا أبو مجلز لاحق بن
حميد عن بن عباس قال : كانت راية رسول الله سوداء ولواؤه أبيض مكتوب عليه لا إله
إلا الله محمد رسول الله لا يروى هذا الحديث عن بن عباس إلا بهذا الإسناد تفرد به
حيان بن عبيد الله
Perhatikan kalimat terakhir dari keterangan Imam Ath-Thabrani bahwa “Tidak ada periwayatan Hadits ini dari Ibnu Abbas kecuali hanya
melalui sanad yang tafarrud, yaitu Hayyan bin Ubaidillah”
Apa itu tafarrud dalam istilah ilmu
hadits? Tafarrud merupakan istilah untuk menyebut bahwa jalur sanad
suatu hadits semuanya hanya melalui satu orang saja dan tidak ada jalur sanad
yang lain. Dengan kata lain, sanad hadits tersebut tidak memiliki syahid atau
jalur sanad lain sebagai penguatnya. Benar-benar sebagai hadits gharib.
Hal ini dibuktikan dengan riwayat
lain yang disandarkan kepada Abdullah bin Umar, sebagaimana disebutkan oleh
Ibnu ‘Adi (al-Kamil fi adh-Dhu’afa’, Juz III, h. 216, Maktabah Syaamilah). Nyatanya sanad
hadits tersebut juga melalui jalan
bersanad Hayyan bin Ubaydillah.
حدثني
العباس بن طالب الأزيد عن حيان بن عبيد الله بن زهير العدوي عن أبي مخلد عن عبد
الله بن عمر قال كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء مكتوبا فيها لا
إله إلا الله محمد رسول الله قال الشيخ وهذا الحديث عن حيان بن عبد الله يرويه عنه
العباس بن طالب إلا أنه من رواه
Lihatlah keterangan
Ibnu ‘Adi pada kalimat terakhir, bahwa”Hadits ini dari Hayyan bin ‘Ubaidillah
yang ia riwayatkan dari al-‘Abbas bin Thalib, juga hanya melalui dia (Hayyan
bin ‘Ubaidillah) hadits ini diriwayatkannya.
Dalam
konteks ini, sosok Hayyan bin Ubaydillah
menjadi urgen untuk dikaji karena dalam menyatakan shahih atau tidaknya suatu
hadits sangat bertumpu pada kajian sanadnya, jarh wa ta’dil. Lalu apa penilaian ahli hadits padanya?
Imam
Ad-Daruquthi mengatakan bahwa Hayyan bin Ubaydillah adalah “laysa bi qowii (bukan perawi
hadits yang kuat),” artinya ia perawi hadits yang lemah (Sayyid An-Nuri, Mawsu’ah Aqwal
Ad-Daruquthni, Juz 11, h. 317, Maktabah Syaamilah).
Imam
Ibnu ‘Adi mengatakan bahwa Hayyan bin Ubaydillah adalah perawi yang “ikhtilath,” yaitu perawi yang buruk
hafalannya karena jika meriwayatkan hadits lebih banyak salahnya dari betulnya (Ibnu ‘Adi, Kitab al-Kamil, Juz II, h. 424, Maktabah Syaamilah)
Imam al-‘Uqaylii bahkan meriwayatkan dari Adam bin
Musa bahwa ia mendengar Imam Bukhari berkata telah mendengar sendiri bahwa
Hayyan bin Ubaydillah “ikhtilath” dalam meriwayatkan hadits (al-‘Uqayli, Dhu’afa Juz I, h. 319, Maktabah Syamilah).
Imam
Ibnu Hazm mengatakan bahwa Hayyan bin Ubaydillah adalah perawi yang “majhul (tidak dikenal).” Perawi-perawi
yang majhul dalam Ilmu Musthalahul Hadits adalah perawi yang sangat lemah (dha’if
jiddan) (Lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisan al-Mizan Juz II, h. 370, Maktabah Syamilah).
Imam
adz-Dzahabi mengutip keterangan Imam Ibnu Abi Hatim mengatakan Hayyan bin
Ubaydillah adalah perawi yang “majhul”
pula. (al-Haytsaami, Majma’ az-Zawaa’id, Juz V, h. 386, Maktaba Syamilah).
Sebagian
ahli hadits ada yang menta’dilkannya atau menguatkannya, seperti Ibnu Hibban
yang memasukkannya dalam Ats-Tsiqat (Perawi-Perawi yang Kuat). Ada pula
yang mengkategorikan sebagai perawi yang Hasan lil ghayrihi, seperti Abu
Hatim, Al-Bayhaqi, dan Ishaq bin Rahawayh dan mengatakannya Shaduq. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisan
al-Mizan, Juz II, h. 370, Maktabah Syamilah).
Tetapi
dalam ilmu musthalahul hadits terdapat qaidah:
الجرح مقدم على التعديل
al-Jarh (Celaan) didahulukan atas
at-Ta’dil (Mensifati Adil).
Maksudnya
apabila seorang ahli hadits menilai tercela seorang perawi hadits dan di sisi
lain ada ahli hadits yang memuji atau menyatakannya sebagai perawi hadits yang
adil maka didahulukan penilaian al-Jarh atau celaan tersebut. Mengapa demikian?
Ahli hadits yang mencela perawi hadits lebih paham terhadap pribadi perawi yang
dicelanya itu, sedangkan ahli hadits yang memuji atau mengadilkan perawi hadits
didasarkan pada persangkaan baik (husnuz zhan), sedangkan persangkaan baik
harus dikalahkan apabila ada bukti ketercelaan periwayat hadits tersebut.
Qaidah ini merupakan kaidah yang dipegang oleh ulama hadits, ulama fiqh, dan
ulama ushul fiqh. (Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 78). Kaidah ini
bahkan ditegaskan sendiri oleh Taqiyuddin al-Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir.
Al-Nabhani bahkan menegaskan:
“Apabila
terkumpul dalam pribadi seseorang jarh yang dijelaskan sebab-sebabnya dan juga
ta’dil-nya, maka jarh didahulukan, sekalipun bilangan orang yang menta’dil itu
banyak, karena orang menta’dil adalah memberitakan sesuatu yang tampak tentang
keadaan, sementara orang yang menjarh memberitakan apa yang tersimpan dan tidak
terlihat bagi orang yang menta’dilnya. Berbilangnya orang yang menta’dil tidak berpengaruh
sedikitpun, karena ia bukan merupakan illat diterimanya suatu berita. Illatnya
adalah al-iththila’ wa ‘adami al-iththila’ (diketahui dan tidak diketahuinya
sesuatu yang tersimpan dan tersembunyi). (al-Nabhani, al-Syakhsiyah
al-Islamiyyah, Ed. Indonesia, h. 472-473)
Hayyan
bin Ubaydillah dalam tilikan qaidah ini jelas harus didahulukan jarh
kepadanya dari pada ta’dil. Ada tiga alasan, yaitu:
(1) Ibnu Hibban
yang mengatakannya ia adalah perawi Tsiqah, terkenal di kalangan ahli
hadits bersikap tasahhul (memudah-mudahkan) dalam melakukan jarh wat
ta’dil, sehingga penilaiannya banyak dikritik pula oleh ahli hadits yang lain.
(2) Abu Hatim,
Al-Bayhaqi, dan Ishaq bin Rahawayh hanya menisbatkan sebutan Shaduq bagi Hayyan
bin Ubaydillah, yaitu sebutan tingkatan perawi hasan lil ghayrihi, yaitu perawi
yang jujur tetapi lemah sehingga harus ada syahid (penguat) jika ia meriwayatkan hadits.
Artinya, sebenarnya mereka mengakui ia lemah dalam hal periwayatan hadits.
(3) Bukti yang kuat datang dari Imam al-Bukhari yang
mendengar sendiri bahwa Hayyan bin Ubaydillah ikhtilath dalam meriwayatkan
hadits.
Kesimpulannya:
hayyan bin ubaydillah adalah perawi yang dha’if, lemah.
Dalam
hadits yang disandarkan pada Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar tentang
panji-panji Rasulullah saw. bertuliskan La Ilaaha Illallaah Muhammadarrasulullaah
itu, ternyata
haditsnya tafarrud, karena sanadnya semuanya hanya melalui Hayyan bin Ubaydillah. mengingat hadits ini
tidak memiliki Syahid, maka kelemahan Hayyan bin Ubaydillah langsung berpengaruh
pada hadits ini, menjadi dha’if atau lemah.
Memang ahli hadits telah menyatakan
hadits ini dha’if seperti al-Haytsaamii (Majma’
az-Zawaa’id, No. Hadits
9638 Juz V, h. 386) dan Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari, Juz 9, h. 160), dan al-Mubarakfuri (Tuhfatul Ahwadzi, Juz IV, h. 361) yang menyebutnya sanadnya “waahin (sangat lemah).”
Saya merasa aneh... orang-orang
yang membela mati-matian al-liwa dan ar-rayyah ini sering mengkampanyekan berpegang
pada hadits yang shahih minimal hasan, tetapi khusus masalah ini... mereka
malah malah tidak peduli kelemahan hadits ini.
Ketiga,
jika itu disebut benderanya Rasulullah saw. terlihat sangat ganjil dari segi
penampilannya. Bagaimana mana mungkin itu disebut bendera Rasulullah saw. yang
diklaim al-liwa dan ar-Rayyah, sedangkan khat (tulisan) laa ilaaha illaallaah
muhammadarrasulullaah itu, menggunakan khat “tsulutsi.”
Khat Tsulutsi
awalnya diciptakan Ibrahim As Sinjari, murid dari Ishaq bin Hammad pada tahun
200 H. Baru kemudian pada awal abad ke 4 Hijriyah, Tokoh kaligrafi terkemuka Ibnu Muqlah sekitar tahun 328 H, merumuskan
kaidah penulisan beberapa khat dengan memberi ukuran serta mempercantik
khususnya khat Tsuluts sehingga lebih indah (Sirajuddin, Seni Kaligrafi Islam, h. 176). Dengan kata
lain, khat Tsulustsi baru muncul 2 atau 3 abad setelah Rasulullah saw.
Bagaimana mungkin anda mengatakan itulah
al-liwa dan ar-Rayyah? Yang benar saja...
Jadi,
akuilah. Itu Benderanya HTI....!!! Bukan bendera tauhid, apalagi bendera
Rasulullah saw., sebagaimana kamu mengakui bahwa tulisan yang sama pada kain
hijau adalah bendera Arab Saudi. Jangan tertipu oleh kampanye HTI, seperti
tertipunya sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib pada perang Shiffin hanya karena
pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan mengangkat Mushaf al-Quran.
Posting Komentar untuk "BENDERA “HTI,” BUKAN BENDERA TAUHID. TAUHID TIDAK ADA BENDERANYA. JANGAN DIYAKINI SEBAGAI BENDERA RASULULLAH SAW. ITU BENDERA HTI"