Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ETNIS CINA SEBAGAI DA’I DAN PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA

 


ETNIS CINA SEBAGAI DA’I DAN PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA

Oleh: H. Hendra Umar, S.Ag, M.H

 

            Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia tidak akan lengkap tanpa menyebut peran Negeri Cina dan etnis Cina. Sayangya memori sejarah ini banyak yang tidak diketahui oleh umat Islam Indonesia yang diperparah dengan pandangan pejoratif selama ini terhadap etnis Cina. Padahal harus diakui tanpa peran Negeri Cina dan etnis Cina, kemungkinan penyebaran Islam di Indonesia akan terhambat, minimal tidak semassif seperti  hasilnya saat ini yang menjadikan agama Islam sebagai agama mayoritas di Nusantara.

 

A.      Masuknya Islam di Negeri Cina dan Pengaruhnya bagi Islamisasi Nusantara

Jika para sejarawan masih berdebat tentang kapan masuknya Islam di Indonesia, ada yang menyebut abad ke-7 M. dari Jazirah Arabiyah, ada yang memperkirakan akhir abad ke-7 M. dari Persia, dan ada yang menyebut  abad ke-13 M. dari Gujarat India, namun para sejarawan sepakat bahwa Islam masuk ke Cina sejak masa awal-awal Islam berkembang di Jazirah Arabiyah.

Ibrahim Tien Ying Ma menyebutkan bahwa Islam telah masuk di negeri Cina sejak masa Rasulullah saw. masih hidup. Diperkirakan beberapa sahabat Muhajirin generasi awal yang berhijrah ke Habasyah (Ethopia) ada yang mengembara sampai ke negeri Cina, menetap di sana dan menyebarkan Islam di Chang-An (Kanton). Hal ini dibuktikan dengan artefak menara Masjid Kwang Tah Se (artinya Masjid dengan Menara Cemerlang) di Chang-An yang meniru Masjid Quba. Prof. Dr. S.M. Fathimi dari Universitas Malaya meneliti usia artefak Masjid ini ternyata tidak terpaut jauh dengan Masjid Nabawi di Madinah, sehingga dipandang sebagai Masjid ketiga tertua di dunia setelah Masjid Quba dan Masjid Nabawi, atau masjid pertama di dunia yang dibangun di luar Madinah. Hasil penelitian ini dikuatkan oleh Senator AD. Alondo yang juga menelitinya.

Cefu Yuangui (Buku Panduan) dan Catatan Sejarah Dinasti Tang merekam bahwa pada tahun kedua Kaisar Yonghui yang disebut pula Kaisar KaoTsung , Kaisar Gaozong  dari Dinasti Tang,  maka telah datang utusan Khalifah Utsman bin Affan ra (644-656 M.) menghadap Kaisar Cina, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash bersama 12 orang sahabat lainnya yang sampai ke Cina pada tahun 612. Para sahabat ini tidak pulang lagi ke Madinah, tetapi bermukim di Guangzhao (Kanton) mendirikan Masjid Huasieng, kemudian dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash. Kota Guangzhao masa itu adalah kota pelabuhan internasional tempat berkumpulnya para pedagang asing dari berbagai bangsa, termasuk bangsa Arab dan Persia. Mereka disebut Fang Zhe (harfiahnya artinya orang asing). Orang Islam disebut pada masa itu dengan istilah Yisilan Jiao, artinya agama murni, sedangkan Rasulullah saw. disebut Budha Ma-Hia-Wu. Mereka bahkan menikah dengan penduduk asli yang melahirkan keturunan muslim peranakan Cina yang disebut Fan Ke, sekali pun masih merupakan komunitas kecil. Penyebaran Islam di Cina menjadi massif pada masa Dinasti Yuan (1206-1368), dan puncaknya pada Masa  Dinasti Ming (1368-1644). Beberapa muslim diangkat menjadi menteri, jenderal, dan gubernur, bahkan Islam menjadi mayoritas pada beberapa daerah seperti  Xin Jiang sampai sekarang.

Disebabkan telah terbentuk komunitas Muslim ini maka intensitas perdagangan Saudagar Muslim Arab ke Cina sangat tinggi. Jalan termudah melalui jalur laut untuk ke Cina dari Arab dan Persia adalah melalui Nusantara. Catatan dari Dinasti Tang pada abad ke-7 M. menyebutkan bahwa komunitas Ta-Shih (sebutan bagi orang Arab dan Persia) telah menetap di Pantai Barat Sumatera yang diidentifikasi sebagai Palembang atau Kuala Brang, 25 Mil dari Sungai Trengganu Rute. Perdagangan ini akhirnya melibatkan berbagai daerah-daerah di Nusantara yang juga berkembang menjadi kota dagang internasional, sehingga tercipta rute dagang Arab/Persia – Nusantara – Cina. Para pedagang Muslim Arab inilah yang akhirnya berperan menjadi muballigh dan menyebarkan Islam di Nusantara. Prof. Uka Tjandrasasmita menegaskan bahwa sejak itu Islamisasi Asia Tenggara dimulai mengikuti mengikuti rute dagang ini. Puncaknya pada abad ke-13, muncul Kerajaan Islam Pertama di Nusantara, Samudera Pasai dan Malaka yang memainkan peranan besar bagi Islamisasi Nusantara.

 

B.       Islamisasi yang Digerakkan Etnis Cina di Nusantara

Kaisar Yung Lo (1360-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming, mengutus  seorang Laksamana Muslin yang taat, Cheng Ho atau Zheng He (1371-1433) sebagai duta perdamaian Negeri Cina ke negeri-negeri lain dalam tujuh kali pelayaran dengan armada laut raksasa dengan 307 kapal diawaki 27.000 orang. Anak buah kapalnya banyak yang muslim, termasuk perwira utama dan juru tulis Ma-Huan. Tujuh kali Cheng Ho mengunjungi Nusantara. Cheng Ho dan armadanyalah yang menumpas para bajak laut yang menguasai Palembang yang dipimpin Chen Tsui, Kota Pelabuhan yang dahulunya sempat berjaya di masa Sriwijaya, tetapi  hancur oleh perompak. Masyarakat Palembang sangat berterima kasih dengan Cheng Ho yang akhirnya mendorong penyebaran Islam di Palembang sampai akhirnya muncul Kesultanan Palembang. Cheng Ho juga tiba di Surabaya M. dan membangun masjid di sana. Di Gresik, Cheng Ho ia disambut oleh Maulana Malik Ibrahim, penyebar Islam yang juga Wali Songo pertama, kemudian Cheng Ho meninggalkan juru dakwah Cina untuk bergabung dengan Maulana Malik Ibrahim. Ma Huan catatan perjalanannya (Ying-yai Sheng Lan) menulis bahwa Gresik dahulu hanya pantai tanpa penghuni, kemudian ditinggali orang-orang Cina Muslim yang taat dari Kanton sekitar seribu keluarga, lalu datang bergabung penduduk pribumi dan pendatang lain. Di Gresik, yaitu Desa Leran, ditemukan makam Fatimah binti Maimun.

Penyebaran Islam secara massif di Jawa mendapat dukungan dari Raja Majapahit, sekalipun Kerajaan Majapahit beragama Hindu. Raja Majapahit, Brawijaya V (Bhre Wirabumi) menikahi perempuan Cina Kamboja, Puteri Raja Campa. Keponakan Puteri Campa ini, bernama Raden Rahmat, putera Maulana Malik Ibrahim, kemudian datang menetap di Ampel Denta, sehingga ia terkenal dengan nama Sunan Ampel. Atas dukungan Brawijaya V, Raden Rahmat mendirikan Pesantren di sana mendidik para da’i yang melahirkan da’i-da’i Wali Songo penyebar Islam di tanah Jawa, sedangkan murid-muridnya yang lain menjadi pembawa Islam di Kalimantan dan Maluku, serta kawasan lain di Nusantara. Ibu Sunan Ampel ini adalah saudara kandung Puteri Campa yang menikah dengan Maulana Malik Ibrahim. Dengan kata lain, Raden Rahmat adalah peranakan Cina Kamboja.

Seorang putera Brawijaya V dari isterinya yang Cina Kamboja ini, yang bernama Jin Bun (versi Babad Tanah Jawi), ada yang menyebut Cu-Cu (versi Sejarah Banten) kemudian dikenal dengan nama Raden Fatah, setelah keruntuhan Majapahit lalu mendirikan Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Kerajaan Demak tampil memfasilitasi tersebarnya Islam di Nusantara.

Demikian pentingnya peran etnis Cina di Jawa, sehingga sejarawan sekaliber de Graaf menegaskan bahwa perkembangan masyarakat Jawa tidak dapat digambarkan secara tepat tanpa menyebut peran etnis Cina. Mereka membantu dan menyokong penuh perkembangan Kerajaan Islam Demak dengan misi Islamisasi Nusantara, sekali pun tidak semuanya beragama Islam. Penyerangan Demak terhadap Portugis di Malaka tahun 1512-1513 oleh Pati Unus menggunakan kapal-kapal Jung diproduksi oleh Kin San (Raden Kusen), adik tiri Raden Patah, Penguasa Palembang. anak peranakan etnis Cina dari Swan Liong (Aria Damar) ayah tiri dari Raden Patah. Sejarawan de Graaf memberikan gambaran bahwa Istana Giri Kedaton, meski pun Sunan Giri bukan etnis Cina, tetapi mempekerjakan muslim Cina  sebagai pengelola sipil dan militer, bahkan panglima perangnya Endrasena beretnis Cina Muslim. Ibu angkat Sunan Giri, Nyai Gede Pinatih adalah Cina Totok Muslimah yang namanya sebenarnya Pi Na Ti.

Keberadaan muslim Cina juga terdapat di Banten, baik Cina Totok dan etnis peranakan Cina. Dalam catatan Lodewicks, asal Belanda yang mengunjungi Banten pada tahun  1596 bahwa banyak orang Cina muslim yang tinggal menetap di Banten, bahkan mendirikan Masjid Pecinan yang bertahan sampai tahun 1902. Dalam catatan VOC, orang Cina Muslim disebut Geschoren Chinezeen (Orang-Orang Cina Cukuran).

Da’i-da’i beretnis Cina berperan penting dalam menjadikan Islam secara massif dipeluk oleh penduduk di Nusantara. Mereka antara lain bisa diintifikasi keberadaannya oleh para sejarawan, seperti:  (1) Raden Kusen atau Kin San, Penguasa Palembang. (2) Kiai Usman Ngudung (Tan Kim Han), patner dakwah Sunan Ampel yang juga menantu dari Puteri Campa yang kuburannya terdapat di Troloyo. (3) Kiai Telingsing (Tan Ling Sing), patner dakwah Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus. (4) Lie Beng Ing, penyebar Islam di Salatiga, khususnya di daerah Kalibening yang dahulunya anak buah Cheng Ho yang tidak mau kembali lagi ke Cina.  (5) Muhammad Syafi’i (nama aslinya Tan Eng Hoat) dan Muhammad Murjani (nama aslinya Tan Sam Cai), dua da’i yang menjadi patner dakwah Sunan Gunung Jati di Cirebon. (6) Pembantu setia Sunan Gunung Jati dalam berdakwah, isterinya sendiri, bernama Tan Hong Tien Nio, populer dengan nama Puteri Ong Tien. (7) Syaikh Qurra’ penyebar Islam di Karawang yang dikenal pula dengan maka Kiyai Bentong. (8) Sungging Badar Duwung, seorang ahli ukir yang memberikan warna Islam pada Jepara, nama sebenarnya adalah Cie Wie Gwan, seorang Muslim Cina Totok yang mewariskan seni ukir khas Jepara. (9) Di Kudus, ahli ukir muslim Cina Totok adalah Sun Ging An yang mewariskan gaya ukir tipikal Kudus. (10) Kiai Juru Mudi Dampuawang di Semarang yang diidentifikasi dengan nama Ong King Hong atau Wang-Ching Hung, juru mudi Cheng Ho yang tidak kembali lagi ke Cina. (11) Tumenggung Lasem, Widyaningrat (Ui Ing Kiat), figur muslim Cina yang taat dan kharismatik di Lasem. (12) Penyebar Islam di Bali dikenal bernama Syaikh Abdul Qadir Muhammad (The Kwan Pao Lie), makamnya masih ada yang sering dikunjungi orang di Desa Temukus (Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kab. Buleleng, Singaraja, Bali.

C.      Tragedi Dinasti Manchu

Naiknya Dinasti Manchu menduduki kekuasaan Negeri Cina membalikkan keadaan. Dinasti Manchu bukan orang Cina dan tidak memiliki  akar geneologi dengan warga Cina yang telah tersebar di sepanjang Asia Tenggara. Dinasti ini sangat membenci orang-orang Islam yang dipandang sebagai pemberontak. Mereka tidak boleh menduduki posisi penting di pemerintahan, dilarang keluar kota, bahkan umat Islam dijadikan sasaran genocide selama hampir 268 tahun yang dibalas dengan perlawanan sengit Cina Muslim dengan semboyan “Hancurkan Kekuasaan Ching (Manchu), dan Galakkan Kekuasaan Ming (Han). Pada masa itu, diperintahkan membakar gudang-gudang dan kapal-kapal jung Cina yang ada di rantau sepanjang pantai Asia Tenggara, Asia Timur sampai India yang umumnya dipegang para pedagang sukses muslim etnis Cina karena Dinasti Manchu khawatir bahwa Cina Muslim yang dirantau ini akan membantu saudaranya di Negeri Cina. Aksi ini dibarengi dengan menarik warga Cina muslim di rantau sepanjang Asia Tenggara, termasuk di Nusantara dan menggantinya dengan emigran baru Cina  pengikut Budha, Kong Hu Chu, dan Taoisme. Sementara Cina Muslim yang tersisa terisolasi dan diserap menjadi masyarakat pribumi yang hilang ke-Cina-annya, termasuk di Nusantara. Hal ini menyebabkan etnis Cina di Nusantara lebih memperlihatkan wajah Budha, Kong Hu Chu, dan Taoisme dari pada wajah Islamnya. Wajah  Islam Cina yang tertinggal di Nusantara hanya bekas-bekasnya dalam bentuk budaya, seperti  baju koko, struktur sokoguru (tiang penyangga masjid), skur atap bangunan kayu bertumpuk, dan lain-lain.

D.      Khatimah

  Historiografi peran muslim etnis Cina dalam Islamisasi Nusantara perlu menjadi perhatian untuk melengkapi historiografi perkembangan Islam di Nusantara yang didominasi oleh teori Arab, Persia dan India sebagai asal masuknya Islam di Nusantara. Hal ini perlu untuk membuka pandangan umat Islam Indonesia yang harus diakui masih pejoratif terhadap etnis Cina yang akhirnya akan mengukuhkan jalinan persatuan dan kesatuan bangsa.

(Referensi: Abdurrahman Wahid, Membaca Sejarah Nusantara, 2010; Ahmad Mansyur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid I, 2013; Ibrahim Tien Ying Ma, Perkembangan Islam di Tiongkok, 1979; Mi Shoujiang dan You Jia, Islam in China: Mengenal Islam di Negeri Leluhur,2017; Sumanto Al-Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa, 2003; dan Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, 2009)

Posting Komentar untuk "ETNIS CINA SEBAGAI DA’I DAN PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA"