Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SUAP YANG HALAL UNTUK TUJUAN BAIK?

                                             



                                               SUAP YANG HALAL UNTUK TUJUAN BAIK?

Oleh: H. Hendra Umar, S.Ag, M.H

            Beredar meme Gus Ulil Abshar Abdalla yang menyatakan Suap itu diperbolehkan untuk tujuan yang baik. Meme ini merupakan framing, kesimpulan over simplistis, dan terlalu menyederhanakan masalah dalam masalah suap.

Masalah ini sudah dibahas tuntas oleh para ulama sejak dahulu.

Suap dalam hukum Islam jelas haram. Hal ini telah menjadi ijma’ ulama (Ash-Shan’ani, Juz II, h. 124), sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Baqarah ayat 188:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

            Rasulullah saw. bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

 

“Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata; “Rasulullah saw. melaknat penyuap dan penerima suap.”

            Namun apakah penyuapan itu? Imam ash-Shan’ani mengutip keterangan dalam Kitab an-Nihayah (Ash-Shan’ani, Juz II, h. 124) menjelaskan:

فِي النِّهَايَةِ الرَّاشِي مَنْ يُعْطِي الَّذِي يُعِينُهُ عَلَى الْبَاطِلِ وَالْمُرْتَشِي الْآخِذُ

 “Penyuap (al-Rasyi) adalah orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain yang akan menolongnya DALAM KEBATILAN,” sedangkan penerima suap (al-Murtasyi) adalah orang yang menerimanya.

            Mengapa saya menulis Kapital kata DALAM KEBATILAN? Hal ini menjadi tanda bahwa ada SUAP UNTUK TUJUAN KEBAIKAN? Lho... ?

            Memang... iya. Suap seperti ini ada dua syaratnya, yaitu:


1.  Suap itu diberikan kepada hakim, pejabat, atau aparat untuk memenangkan yang MEMANG HANYA. Sekali lagi haknya, bukan merampas hak orang lain atau bukan memenangkan sesuatu seleksi yang ditujukan untuk pemenang terbaik sedangkan dia bukanlah yang terbaik (seperti tes CPNS, seleksi kompetensi, seleksi jabatan, dan lain-lain).


2.    Ada keyakinan atau sangkaan kuat bahwa jika suap tidak diberikan maka ia akan dikalahkan oleh hakim, aparat atau pejabat untuk memperoleh haknya itu. Jadi bukan karena hanya dugaan tanpa bukti, tetapi benar-benar berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang lain bahwa jika tanpa suap akan kehilangan haknya.

 

            Para ulama membenarkan suap untuk tujuan kebaikan ini. Penyuap tidak mendapatkan dosa, namun dosa besar akan ditimpakan kepada penerima suap. Hal ini ditegaskan oleh Imam ash-shan’ani dalam Kitab Subulus Salam, Juz II, h. 124-125, Taqiyuddin al-Hishni dalam Kitab Kifayah al-Akhyar, Juz II, h. 261) dan guru besar kami, al-Maghfur al-Habib Saggaf bin Muhammad aljufrie dalam buku Menjawab Masalah Umat, Jilid II, h. 184

Posting Komentar untuk "SUAP YANG HALAL UNTUK TUJUAN BAIK?"